3. Dasar Marhaenisme

Sejarah Lahirnya Marhaenisme

Dalam konteks sejarah marhaenisme merupakan sebuah konstruksi pemikiran soekarno yang dihasilkan dari sebuah perenungan yang sangat mendalam dan sebuah analisa berdasarkan historis materialisme (sebagai pisau analisa) terhadap perkembangan masyarakat yang hidup dalam wilayah geo politik (Hindia Belanda). Berdasar hasil penganalisaan tersebut didapatlah sebuah relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing dan feodalisme bangsa sendiri. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme, yang bersifat menindas rakyat Indonesia. Ketertindasan rakyat Indonesia ini oleh Soekarno di contohkan dalam realitas kehidupan yang di alami Pak Marhaen. Yaitu seorang petani miskin di daerah Cigareleng – Bandung yang kebetulan ketemu dengan Soekarno muda ketika sedang bergerilya dari desa ke desa. Dari obrolan dengan pak marhaen didapat keterangan bahwa, meskipun Pak Marhaen memiliki sawah dan alat produksi sendiri (cangkul, bajak, kerbau dll) termasuk “gubug” namun hasil produksi pertanian ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kalaupun cukup itupun secara pas-pasan.

Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan)  bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.

 

Marhaenisme & Jiwa Kehidupan Rakyat

Dari realitas sosial politik yang dilihat soekarno tersebut maka  tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme maka tidak mungkin membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Dari uraian diatas jelaslah bahwa marhaenisme memiliki keperpihakan yang sangat besar terhadap kaum tertindas (marhaen).

Marhaenisme adalah cermin dari jiwa dan cita-cita kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka. Bahkan marhaenisme adalah cerimin dari jiwa dan cita-cita kehidupan manusia. Mengapa begitu ? Sebab pada prinsipnya ajaran marhaenisme  itu bersumber dari TUNTUTAN BUDI/NURANI MANUSIA (the social concience of man) yaitu tuntutan atau keinginan untuk terciptanya harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial. Begitu pula bagi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah negara bangsa yang didalam segalanya menyelamatkan kaum marhaen dari segala bentuk  penindasan dan ketidak adilan.

Marhaenisme Sebagai Azas

Dari berbagai tulisan Soekarno dapat kita temukan pada prinsipnya marhaenisme sebagai idiologi/azas mengandung tiga pokok pikiran yaitu

1. SOSIO NASIONALISME (nasionalisme yang berperi kemanusiaan),

           Bahwa Rasa mencintai dan wujud kecintaan kepada tanah air Indonesia, bukan berarti menjadikan bangsa dan negara kita sebagai bangsa dan negara yang paling adikuasa dan paling tinggi diantara bangsa – bangsa lain. Akan tetapi merupakan bagian dari bangsa – bangsa  didunia ini. Sehingga kita harus menghormati kemerdekaan tiap – tiap bangsa yang ada. Namun bukan kosmopolitan, tetapi yang sosial bewust.

2. SOSIO DEMOKRASI (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi/ demokrasi yang berorientasi pada

keadilan sosial)

Demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia bukan saja demokrasi Politik. Yang memberikan kebebasan dibidang politik bagi rakyat untuk menentukan pilihannya. Tetapi juga demokrasi ekonomi yang melindungi perekonomian rakyat secara menyeluruh, sehingga masyarakat dapat menikmati hak – hak sipil, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Dimana rakyat berhak untuk bekerja dan hidup layak.

3. KETUHANAN YANG MAHA ESA (demensi religiusitas bangsa Indonesia).

Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa merupakan jiwa bangsa ini, sejak sebelum masuknya Agama – agama di nusantara. Rakyat Indonesia mengenal Tuhan – Nya sesuai dengan keadaan Sosial ekonominya masing – masing.

Untuk mewujudkan cita-cita marhaenisme yaitu masyarakat adil makmur maka harus ditempuh dengan jalan REVOLUSI. Revolusi menurut marhaenisme dibagi dalam tiga tahap :

1. Tahap Nasional Demokratis

Merupakan tahapan dimana kemerdekaan nasional harus dicapai dari sabang sampai merauke sebagai bentuk satu – kesatuan negara Indonesia. Mempertahankan kedaulatan bangsa dari mmanapun asalnya rongrongan tersebut. Kemerdekaan Nasional dengan sistem Pemerintahan yang demokratis, haruslah dilaksanakan dan  dipertahankan.

2. Tahap Sosialisme Indonesia

Tahapan untuk membangun Indonesia dengan pembangunan di segala bidang guna menuju masyarakat adil dan makmur.2. Tahap Masyarakat Dunia Baru

Tahapan untuk menjadikan tatanan dunia menjadi lebih adil, dibandingkan dengan sekarang yang lebih berpihak kepada kaum pemodal.

Catatan: Ketiga tahapan tersebut tidak ada pemisahnya antara satu dengan yang lain. Namun harus dilakukan secara bersama – sama, bukan berarti saat merdeka kita sudah terbebas dari tahapan pertama.

Tahap nasional demokratis akan dapat dicapai apabila tiga prinsip kemerdekaan yang bersifat universal dapat di wujudkan. Ketiga prinsip kemerdekaan itu adalah:

1. Berdaulat di bidang politik

Sebagai sebuah negara yang merdeka, sudahselayaknya Indonesia mampu berdaulat dibidang politik, yang artinya pemerintah atau negara Indonesia mampu menentukan kebijakan – kebijakannya sendiri tanpa dipengaruhi oleh pihak – pihak asing yang merongrong kepentinganrakyat dan kepentingan nasional.

2. Berdikari di bidang ekonomi

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada, sudah selayaknya Indonesia terbebas dari hutang luar negeri dan mampu menjadi negara yang secara ekonomi mandiri, tanpa tergantung kepada hutang luar negeri yang mencekik.

3. Berkepribadian di bidang kebudayaan

Kebudayaan merupakan landasan dari pembangunan, dengan menganut kebudayaan sendiri, kearifan yang ada dalam negeri sendiri maka akan terciptalah manusia Indonesia seutuhnya, dan menjadikan pembangunan dibidang – bidang lain sesuai dengan watak bangsa Indonesia.

Ketiga prinsip kemerdekaan itu harus dibangun diatas landasan NATION AND CHARACTER BUILDING.

Hakekat perjuangan pada massa revolusi fisik menuju kemerdekaan adalah dengan perjuangan politik. Perjuangan politik yang dibangun Soekarno adalah dengan machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtaadwending (penggunaan kekuatan). Sehingga mampu membentuk kekuatan progresif revolusioner (kekuatan massa aksi) menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah tonggak awal tahap Nasional Demokratis.

Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-usaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “declaration of independent”.

Pertama: Dalam tataran internasional Soekarno melakukan penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui Gerakan NON-BLOK yang disebut dengan NEW EMERGING FORCE (NEFO) yang diawali melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Sementara itu pada tataran nasional Soekarno melakukan strategi NASAKOM (nasinalisme, agama dan komonisme) yaitu bersatunya kekuatan progresif revolusioner yang ada dan mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerangka itu dibangun dalam rangka melawan segala macam bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa-atas bangsa atau melawan segala betuk kapitalisme,imperialisme,kolonialisme dan feodalisme.

Kedua : Untuk tidak tergantung pada kapitalisme didalam negeri Soekarno mengembangkan prinsif self help dan self reliance. Dan tataran internasional dikembangkan prinsip kerjasama internasional ynag sejajar dan saling menguntungkan serta tidak menciptakan ketergantungan.

Ketiga : Dalam bidang kebudayaan maka perjuangan untuk mengikis budaya feodalisme yang menindas rakyat. Dan mengembangkan sistem kebudayaan Indonesia yang berkepribadian ke-Indonesia-an yang selalu mengabdi pada kepentingan rakyat. Bukan kebudayaan barat yang menindas rakyat.

Marhaenisme Sebagai Azas Perjuangan

  1.  Non Kooperasi (Tidak Bekerjasama)

Pada hakekatnya sana mau kesana – sini mau kesini. Keinginan kita tidak akan terpenuhi dengan meminta-minta/bekerjasana dengan kaum sana. Kita harus mengenal siapa lawan siapa kawan. Kemudian menentukan kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok. Antagonis dan non antagonis. Massa aksi dan machtvorming akan terbentuk melalui non kooperasi

  1. Machvorming

Pembentukan kekuasaan. Keinginan akan terpenuhi kalau ada macht untuk mendesakkan. Machvorming bersendikan atas antitesa antara sana dan sini

  1. massa aksi

kebangkitan massa secara radikal revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar akan perjuanganya. Bentuk perjuangan massa aksi adalah bentuk perbuatan perjuangan kaum marhaen.. Machtvorming akan terbentuk apabila ada masa aksi.

  1. Radikalisme

Adalah sikap yang mendasar, yang mencakup radikalisme pemikiran, radikalisme semangat, radikalisme gerakan. Dan radikalisme dapat dibangkitkan melalui non kooperasi

  1. Self help

Semangat mengelola sumber daya yang dimiliki. Tidak bergantung pada pihak lain

  1. self relience

kepercayaan diri adalah modal utama gerakan tanpa kepercayaan suatu gerakan akan kehilangan daya hidup dan dinamikanya.

Sejarah Lahirnya Marhaenisme

Dalam konteks sejarah marhaenisme merupakan sebuah konstruksi pemikiran soekarno yang dihasilkan dari sebuah perenungan yang sangat mendalam dan sebuah analisa berdasarkan historis materialisme (sebagai pisau analisa) terhadap perkembangan masyarakat yang hidup dalam wilayah geo politik (Hindia Belanda). Berdasar hasil penganalisaan tersebut didapatlah sebuah relitas sejarah, bahwa rakyat Indonesia mengalami penderitaan yang sangat mendalam akibat sistem kapitalisme/imperialisme (kolonialisme) bangsa asing dan feodalisme bangsa sendiri. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan adalah bentuk penderitaan yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme/imperialisme/kolonialisme, yang bersifat menindas rakyat Indonesia. Ketertindasan rakyat Indonesia ini oleh Soekarno di contohkan dalam realitas kehidupan yang di alami Pak Marhaen. Yaitu seorang petani miskin di daerah Cigareleng – Bandung yang kebetulan ketemu dengan Soekarno muda ketika sedang bergerilya dari desa ke desa. Dari obrolan dengan pak marhaen didapat keterangan bahwa, meskipun Pak Marhaen memiliki sawah dan alat produksi sendiri (cangkul, bajak, kerbau dll) termasuk “gubug” namun hasil produksi pertanian ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, kalaupun cukup itupun secara pas-pasan.

Untuk itulah diperlukan sebuah landasan perjuangan (flat form perjuangan)  bagi bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari segala bentuk penindasan yang menyengsarakan tersebut. Landasan perjuangan tersebut oleh Soekarno dirumuskan dalam MARHAENISME. Marhaenisme dalam pemikiran Soekarno adalah sebuah idiologi perjuangan sekaligus sebagai idiologi pembebasan.

 

Marhaenisme & Jiwa Kehidupan Rakyat

Dari realitas sosial politik yang dilihat soekarno tersebut maka  tanpa melakukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme, imperialisme, kolonialisme dan feodalisme maka tidak mungkin membebaskan anak manusia dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan penindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa. Dari uraian diatas jelaslah bahwa marhaenisme memiliki keperpihakan yang sangat besar terhadap kaum tertindas (marhaen).

Marhaenisme adalah cermin dari jiwa dan cita-cita kehidupan rakyat Indonesia yang merdeka. Bahkan marhaenisme adalah cerimin dari jiwa dan cita-cita kehidupan manusia. Mengapa begitu ? Sebab pada prinsipnya ajaran marhaenisme  itu bersumber dari TUNTUTAN BUDI/NURANI MANUSIA (the social concience of man) yaitu tuntutan atau keinginan untuk terciptanya harmonisasi antara kemerdekaan individu dan keadilan sosial. Begitu pula bagi rakyat Indonesia yang menginginkan kemerdekaan sebagai sebuah negara bangsa yang didalam segalanya menyelamatkan kaum marhaen dari segala bentuk  penindasan dan ketidak adilan.

Marhaenisme Sebagai Azas

Dari berbagai tulisan Soekarno dapat kita temukan pada prinsipnya marhaenisme sebagai idiologi/azas mengandung tiga pokok pikiran yaitu

1. SOSIO NASIONALISME (nasionalisme yang berperi kemanusiaan),

           Bahwa Rasa mencintai dan wujud kecintaan kepada tanah air Indonesia, bukan berarti menjadikan bangsa dan negara kita sebagai bangsa dan negara yang paling adikuasa dan paling tinggi diantara bangsa – bangsa lain. Akan tetapi merupakan bagian dari bangsa – bangsa  didunia ini. Sehingga kita harus menghormati kemerdekaan tiap – tiap bangsa yang ada. Namun bukan kosmopolitan, tetapi yang sosial bewust.

2. SOSIO DEMOKRASI (demokrasi politik dan demokrasi ekonomi/ demokrasi yang berorientasi pada

keadilan sosial)

Demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia bukan saja demokrasi Politik. Yang memberikan kebebasan dibidang politik bagi rakyat untuk menentukan pilihannya. Tetapi juga demokrasi ekonomi yang melindungi perekonomian rakyat secara menyeluruh, sehingga masyarakat dapat menikmati hak – hak sipil, politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Dimana rakyat berhak untuk bekerja dan hidup layak.

3. KETUHANAN YANG MAHA ESA (demensi religiusitas bangsa Indonesia).

Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa merupakan jiwa bangsa ini, sejak sebelum masuknya Agama – agama di nusantara. Rakyat Indonesia mengenal Tuhan – Nya sesuai dengan keadaan Sosial ekonominya masing – masing.

Untuk mewujudkan cita-cita marhaenisme yaitu masyarakat adil makmur maka harus ditempuh dengan jalan REVOLUSI. Revolusi menurut marhaenisme dibagi dalam tiga tahap :

  1. Tahap Nasional Demokratis

Merupakan tahapan dimana kemerdekaan nasional harus dicapai dari sabang sampai merauke sebagai bentuk satu – kesatuan negara Indonesia. Mempertahankan kedaulatan bangsa dari mmanapun asalnya rongrongan tersebut. Kemerdekaan Nasional dengan sistem Pemerintahan yang demokratis, haruslah dilaksanakan dan  dipertahankan.

  1. Tahap Sosialisme Indonesia

Tahapan untuk membangun Indonesia dengan pembangunan di segala bidang guna menuju masyarakat adil dan makmur.

  1. Tahap Masyarakat Dunia Baru

Tahapan untuk menjadikan tatanan dunia menjadi lebih adil, dibandingkan dengan sekarang yang lebih berpihak kepada kaum pemodal.

Catatan: Ketiga tahapan tersebut tidak ada pemisahnya antara satu dengan yang lain. Namun harus dilakukan secara bersama – sama, bukan berarti saat merdeka kita sudah terbebas dari tahapan pertama.

Tahap nasional demokratis akan dapat dicapai apabila tiga prinsip kemerdekaan yang bersifat universal dapat di wujudkan. Ketiga prinsip kemerdekaan itu adalah:

1. Berdaulat di bidang politik

Sebagai sebuah negara yang merdeka, sudahselayaknya Indonesia mampu berdaulat dibidang politik, yang artinya pemerintah atau negara Indonesia mampu menentukan kebijakan – kebijakannya sendiri tanpa dipengaruhi oleh pihak – pihak asing yang merongrong kepentinganrakyat dan kepentingan nasional.

2. Berdikari di bidang ekonomi

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada, sudah selayaknya Indonesia terbebas dari hutang luar negeri dan mampu menjadi negara yang secara ekonomi mandiri, tanpa tergantung kepada hutang luar negeri yang mencekik.

3. Berkepribadian di bidang kebudayaan

Kebudayaan merupakan landasan dari pembangunan, dengan menganut kebudayaan sendiri, kearifan yang ada dalam negeri sendiri maka akan terciptalah manusia Indonesia seutuhnya, dan menjadikan pembangunan dibidang – bidang lain sesuai dengan watak bangsa Indonesia.

Ketiga prinsip kemerdekaan itu harus dibangun diatas landasan NATION AND CHARACTER BUILDING.

Hakekat perjuangan pada massa revolusi fisik menuju kemerdekaan adalah dengan perjuangan politik. Perjuangan politik yang dibangun Soekarno adalah dengan machtvorming (pembentukan kekuatan) dan machtaadwending (penggunaan kekuatan). Sehingga mampu membentuk kekuatan progresif revolusioner (kekuatan massa aksi) menuju Proklamasi 17 Agustus 1945. Inilah tonggak awal tahap Nasional Demokratis.

Untuk menuju sosialisme Indonesia dan dunia Baru Yang adil dan beradab maka nilai-nilai marhaenisme mulai harus diperjuangkan dan ditegakkan. Disamping itu usaha-usaha perbaikan sosial dalam kerangka menuju kehidupan yang lebih manusiawi pun harus ditegakkan. Semua upaya ini harus berlandaskan pada prinsip-prinsip kemerdekaan yang sudah kita sepakati bersama melalui “proclamation of independen” dan “declaration of independent”.

Pertama: Dalam tataran internasional Soekarno melakukan penggalangan kekuatan bangsa-bangsa tertindas melalui Gerakan NON-BLOK yang disebut dengan NEW EMERGING FORCE (NEFO) yang diawali melalui Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955. Sementara itu pada tataran nasional Soekarno melakukan strategi NASAKOM (nasinalisme, agama dan komonisme) yaitu bersatunya kekuatan progresif revolusioner yang ada dan mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Kerangka itu dibangun dalam rangka melawan segala macam bentuk penindasan dan penghisapan manusia atas manusia dan penindasan bangsa-atas bangsa atau melawan segala betuk kapitalisme,imperialisme,kolonialisme dan feodalisme.

Kedua : Untuk tidak tergantung pada kapitalisme didalam negeri Soekarno mengembangkan prinsif self help dan self reliance. Dan tataran internasional dikembangkan prinsip kerjasama internasional ynag sejajar dan saling menguntungkan serta tidak menciptakan ketergantungan.

Ketiga : Dalam bidang kebudayaan maka perjuangan untuk mengikis budaya feodalisme yang menindas rakyat. Dan mengembangkan sistem kebudayaan Indonesia yang berkepribadian ke-Indonesia-an yang selalu mengabdi pada kepentingan rakyat. Bukan kebudayaan barat yang menindas rakyat.

Marhaenisme Sebagai Azas Perjuangan

Non Kooperasi (Tidak Bekerjasama)

Pada hakekatnya sana mau kesana – sini mau kesini. Keinginan kita tidak akan terpenuhi dengan meminta-minta/bekerjasana dengan kaum sana. Kita harus mengenal siapa lawan siapa kawan. Kemudian menentukan kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok. Antagonis dan non antagonis. Massa aksi dan machtvorming akan terbentuk melalui non kooperasi

Machvorming

Pembentukan kekuasaan. Keinginan akan terpenuhi kalau ada macht untuk mendesakkan. Machvorming bersendikan atas antitesa antara sana dan sini

massa aksi

kebangkitan massa secara radikal revolusioner yang disebabkan oleh tenaga-tenaga masyarakat sendiri yang sadar akan perjuanganya. Bentuk perjuangan massa aksi adalah bentuk perbuatan perjuangan kaum marhaen.. Machtvorming akan terbentuk apabila ada masa aksi.

Radikalisme

Adalah sikap yang mendasar, yang mencakup radikalisme pemikiran, radikalisme semangat, radikalisme gerakan. Dan radikalisme dapat dibangkitkan melalui non kooperasi

Self help

Semangat mengelola sumber daya yang dimiliki. Tidak bergantung pada pihak lain

self relience

kepercayaan diri adalah modal utama gerakan tanpa kepercayaan suatu gerakan akan kehilangan daya hidup dan dinamikanya.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s